• aak

Pengalaman Kerja, Bagian 02

Diperbarui: 14 Sep





Time zone 2000 - 2001. Usia 24 tahun - 25 tahun.

(Masih) Tinggal dengan orang tua dan (masih) tidak ada tabungan.


Mendapatkan mentor yang baik serta mengalami 2 budaya perusahaan yang berbeda, menjadikan periode ini merupakan awal pembentukan pola kerja di luar yang sudah di ajarkan oleh orang tua.


"....Kamu lebih pintar dari saya. Saya hanya lulusan SMA, kamu sarjana, saya terima kamu kerja karena saya pengen kalian bantuin saya. Jadi gunakan waktu sebaik mungkin disini, jangan diem aja, eksplore ini pabrik, banyak orang luar yang pengen masuk dan belajar di pabrik saya, tapi saya gak pernah kasih ijin..."

Selama periode tersebut, berkesempatan untuk bekerja di 2 tekstil besar di Bandung, dengan posisi yang jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan yang di miliki saat itu. Dan sangat bersyukur, di tahun itu saya bekerja di perusahaan yang sudah matang secara fundamental dimana saat itu sangat jarang. Sehingga mentoring yang dilakukan sudah lebih spesialisasi ke tugas dan tanggung jawab utama. Meski sudah mapan tapi masih ada ruang untuk improvisasi.

  1. Menjadi staff exim (atau saat itu disebut sebagai Staff Shipping), menangani pengiriman untuk area pengiriman ke Eropa.

  2. Menjadi staff marketing untuk area pemasaran di wilayah Timur Tengah.


"....Kamu lebih cocok jadi sales atau marketing, katanya. Ngapain kamu kerja jadi bagian keuangan atau akunting. Kamu punya potensi yang baik kalau di bagian sales atau marketing. Lagian kamu kan cowo. Suatu saat itu orang akunting atau keuangan gak dibutuhin lagi, nanti kerjaan kamu diganti sama program.. Jadi kamu lebih baik jadi sales atau marketing ......"

Beberapa pembelajaran penting yang diperoleh,

  • Apa yang kamu punya di masa lalu bukan selalu menjadi dasar untuk masa depan. Latar belakang pendidikan tidak selalu akan membentuk jalur kemana kita akan menuju. Kebetulan saat itu pemilihan jalur pendidikan tidak sepenuhnya berdasarkan potensi dan minat. Ketika ditahap awal bekerja, ada yang menyebutkan bahwa kita memiliki potensi di hal lain, lakukan. Kebetulan saya di berkati oleh mentor yang baik, sehingga proses pembelajaran untuk menekuni bidang yang baru tidak terlalu sulit.

  • Di "maki" karena masalah kecil dan di "besarkan" karena masalah besar. Belajar untuk setia kepada masalah kecil sebelum menjadi masalah besar. Sangat ingat ketika tidak bisa terima, di koreksi habis-habisan karena masalah kecil. Tapi kemudian memahami bahwa masalah kecil bisa membawa dampak yang sangat signifikan kepada perusahaan jika kita membiarkan-nya.

  • Pembelajaran menjadi leader yang baik (saat itu, pada jamannya), berada di kantor sebelum team datang, dan yang menutup kantor ketika pulang. Mengingatkan ketika ada kesalahan kecil dan pasang badan ketika masalah menjadi besar.

  • Mengunakan kata-kata kasar selama memimpin itu adalah pilihan, dan pilihan itu yang akan membentuk budaya perusahaan. Tapi bukan berarti kata-kata kasar menjadi penghalang perusahaan menjadi besar atau menyebabkan leader itu menjadi kerdil. Perusahaan bisa tetap menjadi besar tapi dengan fundamental budaya yang spesifik. Apakah salah ? Tidak. Selama bekerja ada beberapa waktu, saya lebih mentolerir leader berbicara kasar kepada saya dibanding leader yang sama sekali tidak melakukan koreksi apapun kepada saya.


"....Kamu saya gaji segini diawal (kalau tidak salah IDR 500.000 dengan UMR saat itu), tapi saya pengen kamu kerja seperti manager. Apa yang saya punya, saya akan ajarin ke kamu, tapi kamu jangan berkeluh kesah meminta imbalan lebih, karena secara personal hanya itu yang saya bisa kasih lebih ke kamu...."

Periode ini meningkatkan kepercayaan diri saya untuk menerima sesuatu yang belum saya pernah lakukan. Belajar bahwa penghargaan diri ketika bekerja adalah memperbanyak skill, menjadi ahli dan tidak terlalu berkutat di masalah angka yang diterima.


Ketidak sesuaian kultur dan masalah tidak ditepatinya janji menjadi alasan utama saya untuk mengundurkan diri dari kedua perusahaan tsb.