• aak

Dihantui oleh Ownership

Diperbarui: 25 Jul



Banyak berseliweran kalau kurang ownership itu,

  • Di suruh lembur tidak mau lembur, atau

  • Di minta datang hari libur untuk kerja itu tidak mau datang, atau

  • Tidak mau baca WA di hari libur, karena menganggu istirahat, atau

  • Diberi tambahan fasilitas tapi tidak menambah loyalitas, atau

  • dst

Ownership menurut #HayuTanya di dalam suatu perusahaan itu ada 2 :

  1. Finansial, yaitu ownership yang memang secara buku tertulis di akta atau dokumen legal resmi perusahaan. Termasuk semua stakeholders yang terlibat, termasuk pekerja yang diberikan kesempatan untuk membeli saham atau memang ada program dari perusahaan untuk memiliki saham setelah beberapa lama bergabung dengan perusahaan.

  2. Non Finansial, yaitu ownership yang sifatnya non-tangible atau lebih ke "perasaan", "mental", "tingkah laku" atau "kesadaran". Termasuk pemberian fasilitas2 pendukung pekerjaan yang berhubungan dengan pangkat/jabatan, masa kerja, kemudahan pekerja, rewards, welcoming goodie bags atau lainnya.


Ownership non-finansial harus di kelola secara konsisten bersamaan dengan pendewasaan / pengembangan organisasi dan budaya perusahaan. Tapi bukan di kelola dengan proyek dan tagline langsung ya "Peningkatan Ownership di perusahaan". Ada baiknya, di kelola berdasarkan variabel-variabel turunannya.

Dari sisi perusahaan, pengembangan mental ownership tidak hanya dilakukan melalui training, coaching dan sebagainya. Cara yang paling ampuh adalah membuatkan fundamental yang baik sehingga SDM yang ada bisa mengembangkan potensi, berkinerja dengan baik dan merasakan keberhasilan kinerjanya membawa dampak yang baik terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan.


Berikut hal-hal yang bisa diterapkan oleh perusahaan :

  1. Mengurangi istilah "Owner" yang mengacu kepada ownership secara finansial. Sebaiknya protokoler internal menggunakan istilah dalam struktur berdasarkan job function/position yang ada, seperti Direktur, Komisaris dsb.

  2. Memastikan ada keterbukaan perusahaan terhadap ide yang dilontarkan dari semua level jabatan,

  3. Adanya pengakuan terhadap hasil jika ada pencapaian yang baik dari team,

  4. Pembentukan sistem penilaian yang berdasarkan hasil dan setara untuk semua SDM yang ada.

  5. Pembentukan standarisasi proses, aturan yang jelas, sehingga SDM bisa lebih berfokus kepada pengembangan hasil bukan kepada ke tidak jelasan yang terjadi di organisasi. Untuk perusahaan traditional/family based company, di sarankan untuk mengurangi kebijakan2 pribadi yang hanya berlaku untuk beberapa orang saja.


Tidak semua pekerja mendapatkan tempat kerja yang segala sesuatunya sudah rapih. Tapi bkn berarti tidak bisa menumbuhkan rasa dan mental ownership secara mandiri.


Yang bisa dilakukan dari sisi pekerja, selain melatih "rasa" atau "mental" dari diri sendiri,


  1. Selalu konsistensi dalam pencapaian kinerja di perusahaan, meskipun berada di kondisi tidak ada kejelasan dalam tuntutan perusahaan. Latih untuk membuat tujuan sendiri atau setidaknya tujuan untuk level Departemen.

  2. Perbaikan terus menerus dalam pencapaian kualitas hasil. Gunakan hal ini untuk berdiskusi atau adakan pertemuan dengan atasan untuk membahas apa yang sudah dihasilkan dan minta feedback.

  3. Jangan segan dan tetap semangat untuk memberikan ide. Bisa diterima atau tidak, bisa dilakukan atau tidak.

  4. Pahami alur proses dan mengerti apa yang dihasilkan akan membawa dampak apa terhadap perusahaan. Sehingga paham posisi keterlibatan secara luas di dalam organisasi.

  5. Secara inisiatif terlibat dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh perusahaan.


Jadi tidak sah lagi ya, jika menilai SDM dirasakan memiliki ownership yang tidak baik hanya karena diminta lembur tidak mau, atau tidak membalas WA di hari libur. Hal itu tidak relevan atau berbanding lurus terhadap pencapaian hasil di organisasi, mungkin bukan ownership yang bermasalah tapi level kompetensi yang memang perlu ditingkatkan (misal kompetensi - komitmen terhadap organisasi).


Yuk, level up "the ownership" by developing organization fundamental so everyone has the same level definition of ownership and work together to achieve it.


NB.

Ownership dari sisi perusahaan dilihat dari sejauh mana kinerja yang dicapai, dari sisi pekerja di lihat dari sejauh mana kesungguhan, tanggung jawab dan keyakinan bahwa apa yg dihasilkan sudah sesuai dengam potensi dan kompetensi yg dimiliki.