• aak

Menjadi Spesialis atau Generalis ?

Diperbarui: 14 Sep



Apakah menjadi generalis atau spesialis saat ini tetap menjadi pilihan ? Sejauh mana Covid-19 mempengaruhi pola pandang terhadap pilihan itu ?.

"...Saat ini banyak perusahaan lebih memberikan nilai lebih kepada pekerja yang mempunyai kemampuan yang sifatnya Generalis dibandingkan Spesialis. Karena ada keyakinan, kemampuan tersebut akan bisa membantu mereka untuk bisa lebih cepat adaptasi dan berkontribusi kepada perusahaan.."

Menurut kami , pemilihan jalur awal semasa sekolah/kuliah tidak bisa menentukan apa yang akan kita peroleh di kemudian hari. Setiap waktu, kesempatan dan kegagalan akan menunjukan jalur yang baru yang mungkin suatu saat disadari berbeda dari perjalanan karier 3 tahun atau 10 tahun yang lalu.


Menjadi konsistensi di satu bidang itu tidak salah, tapi akan menjadi lebih baik ketika mulai melebarkan kesadaran akan perlunya "paham" bidang lain agar menjadi "lebih" ahli atau lebih luas di area yang di jalani.


Jadi sebenarnya, menurut kami, pademic covid-19 hanya membantu mempercepat akselerasi pemahaman generalis atau penguasaan berbagai bidang. Sebenarnya kebutuhan itu sudah ada sejak lama, tapi belum banyak orang yang paham mengenai masalah ini.


Covid-19 membantu semua orang melihat dan merasakan pentingnya bisa melakukan berbagai macam keahlian. Kemajuan teknologi memaksakan kita untuk "berselingkuh" dengan positif, mencari tau keahlian apa yang akan berkembang dan apa yang akan hilang.

"..Menjadi spesialist saat ini sudah mulai kabur batasan-batasannya. Seorang Dokter saat ini sudah mulai harus paham minimal mengenai Personal Branding dan Digital Marketing. Tidak perlu paham sampai ke detail, tapi setidaknya paham untuk delivery service sekarang harus bersaing dengan aplikasi online.."

Jadi,


Berdasarkan pemahaman kami, untuk menjadi generalis harus menempuh 2 perjalanan yaitu menjadi generalis horizontal yang kemudian di lanjutkan dengan menjadi generalis vertikal. Maksudnya apa ya ?


Generalis Horizontal adalah menjadi paham semua proses kerja yang ada tapi masih berada di suatu fungsi departemen/divisi yang sama. Misalnya : Staff HRIS mulai belajar untuk menguasai proses recruitment.


Sedangkan, Generalis Vertikal adalah mulai mempelajari proses kerja beda fungsi departemen/divisi. Secara stuktural, generalis vertikal mulai bisa di jajaki ketika sudah menempuh minimal level Supervisor dan mulai terlibat dengan beberapa proyek perusahaan yang sudah lintas departemen/divisi.

"..Generalis Vertikal membantu SDM untuk lebih paham sebab akibat yang terjadi di lintas fungsi/divisi. Pemahaman itu akan memberikan kekuatan untuk bisa membuat keputusan atau analisa yang lebih luas, baik secara internal maupun eksternal.."

Jangan takut bercita-cita menjadi CEO jika kamu berlatar belakang sales dan jangan takut menjadi ahli coding kalau ternyata kamu dulu memilih untuk menjadi seorang HRD. Yang harus mulai diwaspadai adalah ketika kita mengabaikan konsep generalis. Tetap, pada akhirnya akan kembali kepada keputusan masing-masing. Toh tidak semua juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi generalis.


Di ingat saja, semua orang mempunyai kapabilitas untuk menjadi seorang yang generalis, meskipun memang ada beberapa batasan yang berhubungan dengan talenta, kompetensi dan masalah preferensi pribadi.


Jangan takut untuk belajar, kita semua paham ketika belajar yang sebenarnya di untungkan adalah kita. Menjadi generalis akan mempermudah kita untuk mencapai posisi karier yang tidak terbatas. Ingat ilmu ekonomi makro : supply yang rendah - demand tinggi - value akan tinggi.